category

Tampilkan postingan dengan label galau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label galau. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Februari 2011

boomz mengalihkan blog ku

ne ada satu permainan game,, yg udah bikin aku lupa buat nulis blog.... BOOMZ.... permainan di friendster yg asik eh.... nda tau kenapa pengen nulis tentang maenan ne,, biar ada bahan buat di tulius aj sih.... ahahahahha... daripada  absen terus.... ckckckkckc..... oia,,,, banyak yg pengen di ceritaib dari game ini,,,,... yg bikin ketagihan,, ma nda pernah pulang cuma buat maen ne aj,.... nda seru sih buat orang lain cerita aq ne,, tp ya namanya mau curhat.... ckckckkc....
READ MORE - boomz mengalihkan blog ku

Selasa, 04 Januari 2011

kartu AS 2000

hemm kenapa di kasih judul "kartu AS 2000" soalnya yg ada di hadapan aku ya itu,,, nda jelas sih,,tp ne penting bgt,, setelah BB ilang (hikkzzz huaaaaa) tu kan jd ingat lg,,, ya beberapa hari nda pake hp ato alat komonikasi apa aj,,, hari ini dapat pinjaman hapa nokia segede batu bata,,, hp comunicator yg belum pernah terbayangkan bisa pake tu hp akhirnya aku pake jg,,, ckckckc

malam ne juga jd galau gara" si juna...pasang taruhan buat maen poker malah kalah,,, ya impian dapat bb baru ilang lg.... tp kalo ada uang lebih,, ya coba lg maen judinya,, ahahha...mudahan impian menang jd kenyataan,,, ckckckck...... 

malam  ne nda tidur lg nah,,,gra" telponan ma imbit baru cuma ngebahas tentang aku ma dy,, padahal nda tau tujuan nya kemana... ahahaha tp mrs.J ngajak baik loo,,, asikkkk jd kgn ma dy eh,,, mau di bilang apa lg namanya sayang ma dy... wkwkwkw... 

yeaahhh Hp pinjaman baru,,,,, (-_-")
READ MORE - kartu AS 2000

Senin, 06 Desember 2010

sangat sederhana

Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.

Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”

Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.

Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.

Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.

Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.

Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.

Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.

”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.

”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.

Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.

Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.

Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.

”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.

Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.

Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.

Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.

”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.

Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?

Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?

Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.

Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.

Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.

Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Lewat kata yang tak sempat disampaikan

Awan kepada air yang menjadikannya tiada

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *
READ MORE - sangat sederhana

Minggu, 05 Desember 2010

remembering sunday

Dia bangun dari bermimpi dan mengenakan sepatu Mulai membuat jalan melewati dua pagi Dia belum sadar selama berhari-hari
Bersandar sekarang menjadi angin mengingat Minggu. Ia jatuh berlutut, mereka sarapan bersama. Tapi dua telur yang tidak terakhir seperti rasa apa yang dia butuhkan
Sekarang tempat ini tampaknya akrab kepadanya. Dia menarik tangannya sambil tersenyum nakal. Dia membawanya ke lantai atas, ia menuntunnya ke atas. Waktu dia mati untuk masuk
Maafkan aku, aku berusaha mencarimemanggil saya, aku menelepon di malam hari. Saya tidak bermaksud mengganggu, tetapi apakah Anda melihat gadis ini? Dia sudah berjalan melalui mimpi saya. Dan itu membuatku gila, tampaknyaAku akan meminta dia untuk menikahi saya
Dan meskipun dia tidak percaya pada cinta. Dia bertekad untuk panggilan menggertak dia. Siapa yang bisa menyangkal kupu-kupu? Mereka mengisi perutnya
Membangunkan tetangga, asing wajah. Dia memohon meskipun ia mencoba., Tapi dia hanya ditolak Sekarang dia sekarat masuk ke dalam
Maafkan aku, aku berusaha mencari memanggil saya, aku menelepon di malam hari Saya tidak bermaksud mengganggu, tetapi apakah Anda melihat gadis ini? Dia sudah berjalan melalui mimpi saya Dan itu membuatku gila, tampaknyaAku akan meminta dia untuk menikahi saya
Ada seorang tetangga mengatakan, dia pindah Lucu bagaimana hujan sepanjang hari saya tidak berpikir banyak kemudian Tapi mulai semua masuk akal
Oh, aku bisa melihat sekarang Itu semua awan adalah sebagai berikut saya Dalam upaya putus asa saya Untuk menemukan saya siapapun, dimanapun ia mungkin
Aku tidak datang kembali, aku telah melakukan sesuatu yang begitu mengerikanAku takut untuk berbicara, tetapi Anda harapkan itu darikuAku terlibat, aku akan tumpulSekarang hujan hanya mencuci Anda keluar dari rambutku
Dan keluar dari pikiran saya, mengawasi dunia Begitu banyak ribuan kaki dari tanah Aku atas kamu sekarang, aku di rumah di awan Menjulang di kepala Anda
Yah aku kira aku akan pulang sekarang
READ MORE - remembering sunday

Kamis, 02 Desember 2010

in my heart (kumpulan kata" tidak bermakna)

Maybe I was often angry to you .. Not that I hate .. But I'm afraid you change

Still hoping to become the best in your life

Someone who loves you, seldom praise you, but in his heart only your best, you only did he think :(

Stay here waiting for an uncertain ... Only one hope .. Could see your smile again

Right now I'm not the best ... But I promise I'll learn to be the best

If today was not my day .. So I'll keep smiling only to miss you

Now I'm not a part of you .. But you still live in my mind

Every day I say good morning to you .. That you will always remember me

Today was not my day again .... But until now you remain in my mind

I'm not your prince ... I'm not a hero ... I'm also not the angel .... I'm just an ordinary person who is ready to accompany your days

I love you. You don't have to love me back, but I'm gonna give you my heart anyway
READ MORE - in my heart (kumpulan kata" tidak bermakna)